Terkait Isu Penggusuran PKL, Kadis Dahler : Jangan Menuai Polemik Yang Merugikan Orang Lain, Apalagi Di Tengah Pandemi

0
116

Payakumbuh — Newssumbar. com, -Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh Dahler menanggapi isu tendensius tentang adanya rencana penggusuran pedagang kaki lima yang berjualan di Gang Balai Kota, tepatnya di samping Bank Nagari Cabang Payakumbuh.

Isu tersebut ditulis oleh salahsatu warga di media sosial Facebook. Pemilik akun Arul Pratama menulis di facebooknya, Selasa (24/8) sehingga berdampak resahnya pedagang yang berjualan disana.

“Tidak ada rencana kita di dinas untuk gusur-menggusur PKL disana. Tetapi kalau masyarakat setempat (Labuah Baru-red) ada menyampaikan komplain keberatan dengan keberadaan mereka, maka kita juga tidak bisa mempertahankan pedagang disitu. Dinaspun tidak menempatkan mereka berjualan, alami saja ada disana berjualan sejak belasan tahun lalu,” kata Dahler, kepada media, Rabu (25/8).

Sementara itu, menurut Dahler, secara aturan PKL tidak melanggar peraturan daerah karena mereka tidak berjualan di badan jalan atau trotoar. Namun, mereka berjualan di gang yang berada di kawasan pasar, maka mereka dikenakan aturan perda kawasan pasar. Perda itu mengatur dari kawasan lampu merah Labuah Basilang hingga Tugu Adipura, termasuk sampai Simpang Benteng, mereka diwajibkan membayar retribusi k3 dan K5.

“Uang kebersihan yang dikutip oleh petugas trantib kita ini dari PKL masuk ke kas daerah,” ungkapnya didampingi Kabid Pasar Arnel dan Kasi Trantib Raback.

Tetapi, kata Dahler, apabila PKL menggelar dagangan di tepi jalan raya seperti jalan Sudirman atau berjualan di atas trotoar, ini baru bisa ditertibkan. Memang, kata Dahler, pada jam istirahat kawasan Gang Balai Kota itu padat karena aktivitas jual beli dan tentu kesulitan kendaraan roda 4 untuk lewat.

“Kami menghimbau, jangan lah melemparkan isu-isu tak sedap seperti ini, kasihan kita PKL sudahlah penjualannya lesu akibat pandemi, diterpa pula dengan kabar tak sedap yang tendensius seperti ini,” kata Dahler.

Dari sisi Siti Mailani (27), salahsatu PKL saat ditemui wartawan mengaku usaha milik keluarganya telah dirintis sejak belasan tahun silam, artinya mereka sudah lama berjualan disini sebagai penyambung hidup mereka. Mereka berjualan dari pagi hingga senja dan pelanggan umumnya siswa sekolah dan orang-orang kantoran.

“Beberapa tahun lalu, jauh sebelum aturan melarang berjualan di tepi jalan Sudirman, kami sudah berjualan di kawasan ini. Kemudian, setelah adanya aturan ditetapkan Pemko Payakumbuh, kami pindah ke Gang Balai Kota ini,” ungkapnya.

Pedagangpun mengaku mereka cukup tahu diri, biasanya ada motor yang parkir di dekat dinding di tepi gang, mereka pasti menegur agar motornya dipindahkan, karena sempit menghalangi jalan. Selama ini, pedagangpun tidak ada permasalahan dengan warga setempat untuk akses lewat.

“Sampah kami juga yang membersihkan, sementara itu uang pungutan K3 dan K5 kami membayar ke Dinas Koperasi dan UKM yang dikutip petugas trantib, tidak ada permasalahan,” ungkapnya.

Menurutnya isu ini menyakitkan, kalaupun ada yang membuat mereka harus pindah, sementara pelanggan taunya mereka sudah biasa jualan disini, tentu mereka harus merintis lagi dari awal di lokasi lain.

“Kami akui tempat berjualan ini sangat strategis. Disini kami menyambung hidup, iba hati rasanya bila harus digusur kalau dianggap mengganggu, kamipun tidak ingin melanggar aturan,” ungkapnya. (FS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here