“Rambo” Berjuang Di Kampung Bupati

0
362

Limapuluh Kota -Newssumbar.com — Menarik, aksi yang dilakukan oleh anggota Balai Wartawan Luak Limopuluah dalam menunjukkan kritisnya kepada pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Sosoknya dikenal oleh sesama Wartawan dengan nama Rambo yang berarti RAng Mudiak BOna (Orang Mudiak Banget), itu terbukti dari logatnya saat berbicara, sangat khas.

Dengan mengendarai mobil Corolla DX berwarna oranyenya, Abdul Karim alias Rambo Super memposting foto saat melewati jalan ke Nagari Baruah Gunuang, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, kondisi jalan itu tergambar dari foto dalam kondisi rusak. Ada genangan air di jalan penuh lubang itu, Jumat (24/2) sore.

“Bisa dikatakan ini negeri yang masih tertinggal, kondisi jalan ini sama dengan melintasi sungai tampa air, serasa offroad kita lewat sini,” ungkap Rambo.

Bukan sekedar mengkritik, memang pria yang berkampung di nagari itu selalu kuat dan aktif menyuarakan agar infrastruktur disana segera dibenahi oleh pemerintah daerah setempat.

“Harapan Si anak Desa, dari mulai saya lahir ke dunia ini, sampai kini umur sudah kepala 5, saya belum melihat jalan mulus ke kampung saya ini yang masih dikatokan terkebelakang/terisolir. Saya berdoa kapada Allah kalau dapat manjalang nafas ini lepas dari badan, mencoba juga menempuh jalan ke kampung dengan mulus, seperti kampung orang dan lepas dari keterisolirannya, aamiin,” begitu tulisnya pada postingannya di Facebook Rambo Super, 18 Maret silam.

Rambo merasakan adanya secercah harapan dari seorang Bupati Limapuluh Kota saat ini, yaitu Safaruddin Dt. Bandaro Rajo yang merupakan putra asli Nagari Baruah Gunuang.

“Suara jeritan rakyat akan terus kita sampaikan, sekarang nama Rambo ini menjadi Ramboe (Rang Mudiak Boepati),” kata Rambo di sela-sela diskusi di Kantor Balai Wartawan beberapa waktu lalu.

Sementara itu, aksi rambo ini mendapat berbagai respon dari netizen.

“Mudah-mudahan 2 atau 3 tahun kedepan jalannya sudah bagus, biarlah angin yang menyampaikan ke dinas terkait, karena untuk perbaikan butuh proses,” tulis Ul Adja.

“Ini karena saluran air tidak ada. Seharusnya pihak terkait atau masyarakat sekitar peduli dengan mencegah genangan air di jalan,” tulis Arata Lim.

“Sabar sa di pobanyak mak,” tandas Eko Jilbab (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here