Perubahan Pemberian Nama Anak-anak Minangkabau dari Dulu hingga Sekarang

0
1817

Luak 50,-Newssumbar.com,-Falsafah “alam takambang jadi guru”, benar-benar diterapkan oleh orang Minangkabau sejak dulu. Salah satunya tentang pemberian nama. Dan hal itu, terus berkembang dan berganti sesuai perkembangan zaman.

Kalau diperhatikan di dalam kaba-kaba atau tambo, orang-orang dulu bernama seperti Magek Jobang, Cindua Mato, Puti Saribanilai, Lenggogeni, Saribanun, Sutan Balun, Cati Bilang Pandai, dll. Lalu setelah bergesernya zaman dan masuknya budaya islam maka orang-orang Minang pun memberikan nama-nama anaknya seperti Sultan Alif, Syarif Peto, Abdurahman, Khatib, Muhammad Attar, Zainab, Halimah, Rohana, Siti, dll.

Dan pada awal abad 20 pun, trend pemberian nama anak-anak di Minangkabau juga ikut berubah seperti Arisun, Safarudin, Zainudin, Agus Salim, Sutan Syahrir, Chairil Anwar, Sanusi Pane, Alisyahbana, Idrus, Rusli, Syarifah, Rasuna Said, Latifah, Fatimah Jalil, dll.

Setelah Belanda angkat kaki, kecendrungan pola pemberian nama anak-anak Minangkabau juga ikut berobah seperti Syarial, Rizal, Syafnir, Alizar, Faisal, Dahniar, Darmawati, Yuslan, dll. Namun ketika terjadi perang saudara antara Sumatera Tengah dengan Pusat tahun 1958-1961, perubahan nama itu juga ikut berubah untuk kemudahan si anak di kemudian hari. Setiap anak yang lahir diusahakan seperti nama-nama orang Pulau Jawa atau luar negeri seperti Prayitno, Surianto, Sutomo, Ratna, Dewi, Putri, Sri, dll.

Perobahan nama itu juga terus berubah memasuki tahun 1970-an. Nama-nama anak Minangkabau terasa lebih nasionalis seperti Wandi, Anton, Doni, Anto, Robi, Angga, Nova, Novi, Dela, Deli, Dea, Meli, Esa, Wati, dll. Perobahan nama itu terus berlanjut ketika dunia internet telah merata dan pola kecenderungan gaya hidup pun juga telah berubah kepada trend hijrah atau agamis. Maka nama-nama pun sejak tahun 2000-an sampai sekarang lebih cenderung ke pola nama-nama orang Arab atau bahasa Arab seperti Fatih, Khalid, Ali, Umar, Abdullah, Sauqi, Muhammad, Aisyah, Zainab, Fatimah, Zahra, dll.

Namun ada juga cara unik orang zaman dulu memberi nama untuk anak-anaknya. Misalnya anaknya lahir ketika gempa maka diberilah nama anaknya Gampo Alam. Atau ada juga yang sedang mengirai padi di sawah lalu dikabari oleh orang lain bahwa anaknya lahir maka anak itu diberi nama Kirai. Atau ada juga sangat menggemari telenovela maka anak pun diberi nama Faldo atau Mersedes. Begitu juga bagi laki-laki yang menggemari klub sepak bola maka bisa saja nama anaknya Valensia. Dan sebenarnya masih banyak hal-hal unik tentang pemberian nama itu.(tim)

Feni Efendi, pencatat memori kolektif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here