Peredaran Rokok Luffman Semakin Tak Terbendung, Tenyata Bukan Rokok Dalam Negri

0
225

PAYAKUMBUH,-Newssumbar. com, -Peredaran rokok ilegal di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota terbilang banyak. Ada beberapa merek rokok yang beredar dan sudah dihisap oleh masyarakat kelas bawah. Seperti pertani, buruh dan tukang.

Penegak hukum pun termasuk dari Bea Cukai terus gencar untuk memberantas peredaran rokok ilegas oplosan tanpa dilengkapi pita cukai tersebut.

Salah satu narasumber terpercaya yang ada di Sumbar yang enggan disebutkan namanya, pernah mendapatkan laporan terkait hasil investasi rokok ilegal merek Luffman tersebut.

“Rokok yang selama ini beredar di daerah kita, bukan rokok diproduksi dalam negeri tetapi dari luar negeri,” katanya. Negara yang dimaksudnya, yakni salah satu negara masih berada di kawasan Asia Tenggara.

Rokok Luffman tersebut masuk ke Indonesia, terutama untuk wilayah barat melalui pesisir pantai timur Sumatera. Kemudian, rokok tersebut naik ke daratan dan diedarkan ke berbagai daerah melalui jalur darat.

Diyakini rokok Luffman tersebut merupakan produksi luar negeri, diperkuat dengan tidak adanya satu kata pun yang berbahasa Indonesia ditulis pada bungkus. Kemudian, tidak adanya gambar peringatan pada bungkus rokok seperti pada rokok-rokok yang memiliki izin edar selama ini. Tak hanya itu saja, pada bungkusnya pun tidak dilengkapi bandrol, segel peta cukai.

Untuk di Sumbar, terutama Payakumbuh dan Limapuluh Kota, rokok tersebut dijual sampai ke tangan konsumen hingga mencapai Rp 10ribu perbungkusnya.
Beredarnya rokok ilegal dari luar negeri itu, sudah merugikan keuangan negara terutama pemasukan negara dari sektor cukai rokok impor termasuk pajak rokok.

Rokok ilegal yang selama ini beredar, melanggar Undang-undang nomor 39 Tahun 2007 tentang cukai dan Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 pasal 199 yang berbunyi setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau memasukkan rokok ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan tidak mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk gambar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dendan paling banyak Rp 500 juta. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here